Pertanian di Indonesia menghadapi tantangan signifikan dari keberadaan lahan masam atau Tanah Asam, yang seringkali memiliki kadar aluminium (Al) yang tinggi dan pH rendah (di bawah 5.5). Kondisi ini secara drastis menghambat pertumbuhan tanaman, membatasi penyerapan nutrisi esensial, dan pada akhirnya menurunkan produktivitas panen secara keseluruhan. Namun, kabar baiknya adalah lahan masam dapat direhabilitasi. Dengan menerapkan kombinasi teknik pengapuran dan pemberian bahan organik yang tepat, petani memiliki kunci untuk membuat Tanah Asam Kembali Subur, membuka potensi hasil panen yang optimal dan berkelanjutan.
Inti dari mengatasi masalah Tanah Asam adalah pengapuran, yaitu penambahan bahan yang mengandung kalsium (Ca) dan magnesium (Mg) ke dalam tanah, seperti kapur pertanian (dolomit atau kalsit). Kapur bekerja dengan menetralkan keasaman (menaikkan pH) dan mengikat aluminium yang beracun bagi akar tanaman. Dosis kapur harus dihitung secara tepat berdasarkan analisis pH awal dan jenis tanah. Contohnya, Balai Penelitian Tanah (Balittan) menyarankan bahwa untuk menaikkan pH dari 4.5 ke 5.5 pada tanah liat berpasir, diperlukan dosis kapur sekitar 2 hingga 3 ton per hektar. Pengapuran ini idealnya dilakukan 2–3 minggu sebelum penanaman utama (misalnya, pada akhir musim hujan di bulan April) agar kapur memiliki waktu yang cukup untuk bereaksi dengan tanah.
Meskipun pengapuran cepat menaikkan pH, keberlanjutan kesuburan Tanah Asam memerlukan dukungan dari bahan organik. Pemberian pupuk kandang, kompos, atau sisa biomassa secara teratur berfungsi untuk memperbaiki struktur tanah, meningkatkan kapasitas tanah menahan air dan nutrisi, serta merangsang aktivitas mikroorganisme yang penting. Bahan organik juga bertindak sebagai agen buffer, membantu menstabilkan pH yang sudah ditingkatkan oleh kapur, mencegah tanah kembali menjadi masam terlalu cepat. Perbaikan struktur tanah ini sangat penting di lahan masam yang cenderung padat dan keras.
Seorang petani di wilayah Sumatera Selatan yang berfokus pada budidaya padi sawah telah berhasil mengubah lahan gambut masamnya. Melalui program rehabilitasi yang dimulai pada tahun 2023, ia rutin memberikan kapur pertanian dan menambahkan kompos dari limbah biomassa sawah. Hasilnya, pH tanah di lahannya kini stabil di angka 5.8, dan produksi panen padi pada musim tanam berikutnya meningkat sebesar 40% dibandingkan sebelumnya. Kombinasi yang terintegrasi antara pengapuran (sebagai solusi cepat menaikkan pH) dan penambahan bahan organik (sebagai solusi jangka panjang untuk menjaga kesehatan tanah) adalah metode teruji yang membuat Tanah Asam Kembali Subur, meningkatkan daya dukung lahan pertanian secara holistik.