Sektor primer, terutama pertanian atau agrikultur, seringkali diabaikan dalam narasi pembangunan yang terlalu berfokus pada industri manufaktur dan jasa. Padahal, Kontribusi Agrikultur terhadap ketahanan pangan, penyerapan tenaga kerja, dan stabilitas ekonomi makro Indonesia sangatlah fundamental. Di tengah ketidakpastian ekonomi global dan isu perubahan iklim, masa depan Indonesia justru sangat bergantung pada pengelolaan yang cerdas dan modern di sektor ini. Data dari Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian menunjukkan bahwa meskipun sektor lain sempat tertekan, sektor pertanian selalu menjadi penyangga utama, mempertahankan rata-rata kontribusi terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) di atas 12% sejak tahun 2021.
Untuk memaksimalkan Kontribusi Agrikultur, fokus pemerintah dan stakeholder harus diarahkan pada hilirisasi dan integrasi teknologi. Sebuah inisiatif signifikan dilakukan oleh Badan Pangan Nasional (BPN) di Provinsi Sulawesi Selatan melalui program “Lumbung Pangan Digital”. Program ini, yang dimulai pada kuartal II tahun 2024, bertujuan memotong rantai pasok yang panjang dan merugikan petani. Melalui platform digital, petani dapat menjual hasil panen mereka langsung kepada distributor besar atau bahkan konsumen akhir. Data transaksi yang dicatat BPN per Agustus 2024 menunjukkan bahwa program ini berhasil meningkatkan margin keuntungan petani padi sebesar rata-rata 18%.
Aspek lain yang memperkuat Kontribusi Agrikultur adalah kemampuannya menyerap tenaga kerja. Di tengah gelombang automasi dan digitalisasi, sektor ini tetap menjadi lapangan pekerjaan bagi jutaan penduduk pedesaan. Berdasarkan survei Badan Pusat Statistik (BPS) per Februari 2025, sektor pertanian masih menampung lebih dari 28% dari total angkatan kerja nasional, menjadikannya katup pengaman sosial saat sektor lain mengalami perlambatan. Program pelatihan vokasi dan penyuluhan yang gencar dilakukan oleh Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Provinsi Jawa Tengah, misalnya, berhasil mencetak 1.500 wirausaha muda di bidang agrikultur modern selama tahun 2024, membuktikan bahwa sektor ini menarik bagi generasi baru.
Untuk menjamin kelancaran dan keamanan kegiatan di sektor primer, aparat keamanan juga terlibat aktif. Pada Selasa, 14 Januari 2025, Kepala Kepolisian Resor (Kapolres) Pasuruan, AKBP Tito Sumardji, S.H., S.I.K., M.Si., meresmikan “Posko Keamanan Lahan Pertanian” di Desa Rejosari. Posko ini bertujuan mencegah praktik pencurian hasil panen dan konflik lahan, yang kerap mengganggu stabilitas produksi. Upaya kolaboratif ini memastikan bahwa lingkungan kerja petani aman dan kondusif.
Dengan demikian, menguatkan sektor primer dan meningkatkan Kontribusi Agrikultur bukan hanya tentang menanam, tetapi tentang membangun ekosistem yang cerdas, efisien, dan berkeadilan. Investasi yang serius pada teknologi, infrastruktur, dan sumber daya manusia di sektor ini akan menentukan seberapa kokoh fondasi ekonomi Indonesia di masa depan.